“Tommy!!”
Sial! Koq malah sekarang? Kenapa tidak nanti saja?
“Ini sudah kesekian kalinya kamu nggak nyetor uang keamanan, mana!!?” Suara cempreng Skullk. Pasangan abadi tanpa terpisah dari sosok buncit nan membahana (haiyah) Bullk. Dua pecundang pemimpi.
Hey, Tommy kan si Ranger Ijo yang gagah perkasa nan tampan? Kenapa kalah oleh 10 -Skullk dengan perawakan seperti angka satu sementara yang lainnya angka 0- pecundang berkentut sangat bau ini?
Karena hidup ini absurd dan paradoks –baik, jujur itu kata-kata yang hanya berusaha memperlihatkan si penulis berintelektual tinggi tanpa tahu artinya koq-. Dan tentu saja karena, si Tommy tidak mengikuti skenario yang biasa.
“Tidakkah kamu ingin belajar dengan rasa aman dan damai Tomm? Makanya jangan sekali-kali telat atau sampai lupa memberi jatah kami setiap hari. Atau kamu ingin saya hadapkan ke Mbak Rita, hah??!”. Suara Bullk dengan semburan air liur yang keluar ketika berbicara.
“Bukannya saya lupa teman-teman, tapi tugas dari Alpha kadang menyita waktu saya. Di tambah lagi tugas piket membersihkan tabung tempat Zordon berendam setiap hari”. Dan ini jujur.
“Dan kami percaya, huh?” Ujar mereka tidak mau tahu.
Menjadi Rangers bukanlah sebuah anugerah yang harus selalu disyukuri. Kadang juga menyebalkan. Pernah dipaksa menghentikan kenikmatan mengejan ketika pup karena harus segera mengusir monster-monster di kota? Saya pernah. Dan percayalah, itu sangat menyebalkan.
Di tambah lagi dengan kewajiban harus memakai kostum ketat nan melekat yang panas. Saya sendiri tidak suka lekuk-lekuk tubuh saya dinikmati sembarangan orang. Muhrim saja bukan koq!.
Dan Rp.15.000 jatah makan dikantin harus melayang pagi ini. Bayangan pecel lele harus rela digantikan nasi uduk dengan lauk bakwan satu potong.
Melawan saja kedua begundal dengan memakai kekuatan Rangers Ijo yang saya punya? Itu diharamkan kawan.
Entahlah apa Rangers-Rangers yang lain suka akan tugas mereka sebagai pahlawan berpakaian ketat. Toh saya baru di banding mereka. Baru dua bulan tapi yang tertampan.
Ranger Ijo, Tommy Out!!
Februari 26, 2008 pukul 7:20 pm
Hi
Februari 26, 2008 pukul 7:29 pm
Eh-hem.
Buatlah mereka mengerti..
Apa yang kau lakukan..
Tapi jangan sampai merubah diri jadi egois..
*Ranger Kuning sotoy*
Februari 26, 2008 pukul 10:06 pm
*Ranger Merah mode ON*
harusnya kamu bersikap lebih bijaksana dalam menghadapi tugas2 itu. kamu sudah bersedia menjadi ranger, harusnya kamu bisa menerima segala konsekuensinya. apapun kegiatanmu harus kamu atur dengan baik. manajemen waktu itu penting.
tetaplah bersemangad Ranger Ijo !! Masih banyak kejahatan yang harus kita tumpas dari muka bumi ini…
*Ranger Merah mode OFF*
Februari 26, 2008 pukul 11:37 pm
Lha, kayakna yg paling semangad tuh ranger ijo deh…
Yuk, konco2nya mbak Rita masih banyak tuh…
Februari 27, 2008 pukul 8:33 am
Asyemmm, celana saya di culik Goldar pas pup di WC umum. Siyaaaaallllll
Februari 27, 2008 pukul 7:27 pm
Wakakaka… Si JO aneh2 ja…
Februari 29, 2008 pukul 9:01 pm
jah ga pek celana dunk jo?? hu.. seksi…
Maret 1, 2008 pukul 3:58 pm
[...] Sama halnya dengan diri yang terkadang memiliki topeng, diri ini mungkin juga memiliki “siluet”. Hidup memang penuh dengan segala pernak-perniknya yang terkadang diisi dengan intrik siluet ini. Dan di setiap jiwa pastilah ada bagian putih yang tersentuh maupun tak tersentuh yang wajib disyukuri walau tumbuh di tengah kehidupan tandus, absurd, dan paradoks. [...]
Maret 1, 2008 pukul 4:36 pm
Jo kayaknya bakat jadi pelawak deh… ^^
Maret 5, 2008 pukul 1:40 pm
Salam kenal ^_^
best regards,
Kamen Rider